Kayong Utara — Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mencapai 5,89 persen, menandai percepatan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir tersebut. Pemerintah daerah menilai investasi industri yang digerakkan Harita Group menjadi salah satu faktor utama di balik capaian itu.
Bupati Kayong Utara Romi Wijaya mengatakan lonjakan pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari kehadiran proyek hilirisasi bauksit di Pulau Penebang.
“Pertumbuhan ekonomi Kayong Utara mengalami kenaikan signifikan, mencapai 5,89 persen,” ujarnya.
Melalui anak usahanya, PT Dharma Inti Bersama, Harita mengembangkan Kawasan Industri Pulau Penebang sebagai pusat pengolahan bauksit menjadi alumina. Proyek ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral, sejalan dengan kebijakan industri nasional.
Romi menyebut proyek tersebut berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Keberadaan Proyek Strategis Nasional di Pulau Penebang berkontribusi pada pencapaian angka pertumbuhan ini,” kata dia.
Dorong Nilai Tambah dan Industri Terintegrasi
Pengembangan kawasan industri di Pulau Penebang diarahkan untuk membangun rantai produksi dari hulu ke hilir. Selain pengolahan bauksit menjadi alumina, proyek ini membuka peluang pengembangan industri aluminium terintegrasi di masa depan.
Dalam lanskap pembangunan daerah, kehadiran industri ini dinilai mulai mengubah struktur ekonomi Kayong Utara dari berbasis komoditas mentah menuju industri bernilai tambah. Dampaknya mulai terlihat pada sejumlah indikator sosial-ekonomi.
Data pemerintah daerah menunjukkan angka kemiskinan menurun dari 9,56 persen pada 2020 menjadi 8,75 persen pada 2025. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 62,66 menjadi 67,60 poin pada periode yang sama.
Serap Tenaga Kerja dan Tantangan SDM

Proyek industri ini juga menyerap sekitar 1.800 tenaga kerja lokal. Ketua Panitia Khusus DPRD Kayong Utara, Ishak ST, mengapresiasi kontribusi perusahaan dalam membuka lapangan kerja.
“DPRD berterima kasih kepada PT DIB karena sudah mempekerjakan tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Anggota DPRD Kayong Utara, Abdul Rani, menambahkan bahwa meski belum berproduksi penuh, proyek tersebut sudah memberi dampak awal.
“Belum produksi tapi sudah memberikan kontribusi berupa lapangan pekerjaan, pelatihan keterampilan, hingga pemberdayaan masyarakat,” kata dia.
Namun, kebutuhan tenaga kerja terampil menjadi tantangan berikutnya. Pengembangan kapasitas sumber daya manusia dinilai krusial untuk mendukung operasional industri yang semakin kompleks.
Efek Berganda ke Ekonomi Lokal
Aktivitas industri di Pulau Penebang juga memicu efek berganda terhadap sektor lain, termasuk pertanian, perikanan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Desa Pelapis, yang berada di sekitar kawasan industri, mulai merasakan peningkatan perputaran ekonomi dan tumbuhnya usaha kecil.
Meski demikian, kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) dinilai belum optimal. Pemerintah daerah masih menghadapi tantangan dalam mengurangi ketergantungan terhadap transfer dari pemerintah pusat.
Arah Bisnis dan Keberlanjutan

Selain investasi industri, Harita juga menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang mencakup bantuan sosial, dukungan energi, dan pembangunan infrastruktur. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga hubungan dengan masyarakat lokal sekaligus mendukung keberlanjutan operasional.
Kawasan Industri Pulau Penebang memiliki luas sekitar 2.205 hektare, dengan pengembangan inti mencapai 1.893 hektare. Skala proyek ini menempatkan Kayong Utara sebagai salah satu kandidat simpul industri baru di Kalimantan Barat.
Romi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
“Target-target pembangunan dapat dicapai bila kita saling bergandeng tangan,” ujarnya.
Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, pemerintah daerah mengingatkan pentingnya memastikan manfaat pembangunan tersebar merata. Penguatan kapasitas SDM, integrasi UMKM, serta kebijakan fiskal yang adaptif menjadi kunci agar momentum industri dapat berkelanjutan dan inklusif. (*)