Rabu pagi, 2 Juli 2025, rumah tahanan Kelas IIB Sinjai mendadak geger. Dari daftar penghuni yang semestinya lengkap saat apel pagi pukul 07.00 Wita, satu nama lenyap begitu saja, Anas bin Daman.
Ia bukan warga binaan lama. Baru 36 hari menempati sel pengasingan alias “Sel Merah” karena melanggar tata tertib. Namun, dari tempat pengurungan itu, ia justru berhasil membuka jalan keluar dengan cara tak biasa yakni melalui plafon.
Dugaan sementara, Anas membobol eternit atas selnya lalu memanjat ke atap. Jalur pelarian yang tak umum, namun cukup untuk membuat sipir tak bisa berkata apa-apa. Tanpa jejak dan tanpa suara, ia lenyap begitu saja dari sistem pengawasan yang semestinya rapat.
Identitas Anas bukan tanpa beban. Pria ini dijerat dua pasal sekaligus yakni pencurian Pasal 363 ayat (1) dan penadahan Pasal 480 KUHP. Masuk pada 27 Mei 2025, ia justru keluar lebih awal dengan cara melawan prosedur.
Kepala Rutan Sinjai, Darman Syah mengakui ada celah dalam sistem pengamanan. Namun, ia langsung merespons cepat. Kejadian ini dilaporkan kepada Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulawesi Selatan. Rutan pun berkoordinasi dengan Polres Sinjai, Dandim 1424, dan Polres Bantaeng untuk memperluas pencarian. Tim khusus juga dibentuk untuk melacak pelarian yang tak disangka ini.
“Kami menyesalkan insiden ini dan segera melakukan evaluasi menyeluruh. Pencarian dilakukan intensif, dan kami berkomitmen untuk terbuka kepada publik,” ujar Darman.
Untuk sementara, keamanan Rutan diperketat. Area sekitar sel digeledah ulang. Lubang pada plafon jadi saksi bisu bagaimana satu tahanan bisa lebih cerdik dari struktur pengawasan yang mestinya kuat. Para petugas kini menatap ke atas, bukan hanya ke sel dan pagar, karena siapa sangka, langit-langit pun bisa jadi jalan kabur.
Kejadian ini kembali menggugah pertanyaan lama, seberapa siap lembaga pemasyarakatan menanggapi nalar kriminal yang kreatif? Anas telah memberi satu jawaban di mana plafon pun bisa jebol bila pengawasan longgar. Kini giliran aparat hukum membalikkan keadaan dengan mencari buronan yang terbang lewat langit-langit dan kembali mendaratkannya ke balik jeruji. (Thamrin/Eka)