Di sebalik dinding-dinding bisu yang menyimpan kisah luka dan penyesalan, lantunan ayat-ayat suci kembali mengalir. Tidak dengan teriakan, bukan pula dengan derap langkah besi, melainkan lewat getar halus suara-suara yang tengah belajar kembali menjadi manusia seutuhnya.
Di Rumah Tahanan Kelas IIB Pangkajene, Kementerian Agama Kabupaten Pangkep menyalakan pelita kecil untuk jiwa-jiwa yang haus makna. Sebuah pengajian rutin dua kali sepekan, sebagai jembatan bagi mereka yang ingin kembali pulang dalam artian yang paling rohani.
Tepat 2 Juli kemarin seperti biasa, ruang kecil itu kembali menjadi tempat pengajian. Para warga binaan, yang selama ini hanya dikenal lewat nama perkara dan vonis, duduk bersila dengan wajah-wajah yang mencoba tabah. Di hadapan mereka, para penyuluh agama hadir bukan sebagai penghakim, melainkan sebagai teman dalam perenungan.
Tak hanya mengajarkan kaidah ibadah, mereka menanamkan kembali akar-akar akidah yang mungkin telah tercerabut oleh kesalahan lalu. Setiap kalimat yang diucap bukan sekadar pelajaran, melainkan upaya menghidupkan kembali hati yang mungkin telah lama mati. Ayat demi ayat dibaca, lalu direnungi bukan sekadar dibaca untuk khatam, tapi untuk menyembuhkan.
“Ini bukan hanya tentang pembinaan spiritual,” ujar Djufri Rasyid, Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Pangkajene. “Ini tentang membangun kembali harapan. Kami percaya, seseorang bisa berubah. Dan perubahan itu harus dimulai dari dalam,” lanjutnya.
Suasana dalam ruang pengajian tak seperti ruang tahanan yang dibayangkan. Tak ada jeruji mencolok, hanya sorot mata yang menyiratkan harapan. Pengajian itu menjadi semacam oase. Mungkin satu-satunya bagi warga binaan untuk menyentuh kembali dirinya sendiri. Dalam tiap sesi, mereka diberi ruang untuk bertanya, mengadu, bahkan menangis.
Program ini bukan sekadar rutinitas keagamaan. Ia adalah napas panjang dari sebuah sistem pembinaan yang menolak tunduk pada keputusasaan. Sebab di balik kesalahan dan hukuman, masih ada manusia yang layak untuk disapa, dibimbing, dan diberi kesempatan kedua.
Sinergi antara Kemenag Pangkep dan Rutan Pangkajene adalah bukti bahwa narasi pemasyarakatan tak harus kaku dan kering. Ia bisa hangat, manusiawi, bahkan menyentuh. Bukan soal bagaimana membuat mereka patuh, tapi bagaimana menghidupkan kesadaran. Karena pada akhirnya, tak ada benteng yang mampu membatasi hidayah. Ia bisa masuk bahkan ke ruang terdalam yang telah lama dilupakan dunia. (Eka)