* Lapas Maros Putar Film “Miracle in Cell No. 7” sebagai Sarana Pembinaan Emosional
Suasana di Aula Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Maros berubah menjadi ruang tawa dan tangis pada Jumat sore, 20 Juni 2025. Setelah salat Asar, puluhan warga binaan berkumpul untuk menyaksikan pemutaran film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia. Film yang dibintangi Vino G. Bastian itu diputar dalam rangkaian kegiatan pembinaan berbasis pendekatan humanis.
Derai tawa mengiringi adegan kocak para penghuni sel dalam film, namun tak sedikit pula yang mengusap air mata saat menyaksikan momen-momen haru antara tokoh utama dan putrinya. Film ini dianggap menyentuh sisi terdalam emosi, membangkitkan kenangan, sekaligus menjadi ruang refleksi bagi para penghuni lapas.
Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembinaan yang tak hanya bersifat edukatif, tetapi juga emosional.
“Film ini punya kekuatan emosional yang luar biasa. Lucu, tapi juga menguras air mata. Pesan moralnya dalam tentang cinta tanpa syarat, ketulusan, dan keadilan,” kata Ali. “Kami ingin warga binaan tidak hanya terhibur, tapi juga belajar dari kisah yang disampaikan.”
Ali menegaskan bahwa pemutaran film semacam ini adalah bagian dari upaya Lapas Maros untuk memanusiakan proses pembinaan, memberi ruang bagi warga binaan untuk merasakan empati, kasih sayang, dan harapan. Ia percaya bahwa pembinaan bukan sekadar penegakan disiplin, tapi juga penumbuhan nilai-nilai kemanusiaan.
Seorang warga binaan yang enggan disebutkan namanya, tampak menunduk setelah pemutaran film. Matanya sembab.
“Lucunya dapet, sedihnya juga dapet. Saya jadi ingat anak saya di rumah. Semoga suatu saat saya bisa ketemu lagi dalam keadaan yang lebih baik,” ucapnya lirih.
Kegiatan semacam ini bukan kali pertama digelar. Lapas Maros dikenal aktif menggelar berbagai pendekatan pembinaan berbasis psikososial dan spiritual, mulai dari pelatihan keterampilan hingga kegiatan keagamaan dan seni. Namun pemutaran film ini menjadi salah satu kegiatan yang paling emosional dan menyentuh langsung sisi terdalam para warga binaan.
Lapas Maros tampaknya ingin menegaskan bahwa jeruji tak selalu harus identik dengan sanksi dan hukuman. Di balik dinding-dinding penjara, masih ada ruang bagi tawa, tangis, dan terutama harapan. (*/Eka)