Menteri HAM Resmikan ‘Ruang Marsinah’ untuk Pelayanan Hak Asasi Manusia

November 11, 2025
1 min read

Jakarta — Di tengah peringatan Hari Pahlawan Nasional, Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia mengabadikan nama Marsinah, seorang aktivis buruh yang dibunuh pada 1993, pada ruang pelayanan HAM di kantor pusatnya di Jakarta.

Keputusan tersebut diumumkan oleh Menteri HAM Natalius Pigai setelah Presiden Prabowo Subianto menetapkan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional pada Senin, 10 November 2025. Ruangan di lantai satu gedung KemenHAM RI itu kini resmi bernama Ruang Marsinah.

Pigai mengatakan, langkah ini bukan semata seremoni, melainkan pernyataan moral negara terhadap sejarah panjang perjuangan hak-hak buruh dan keadilan sosial di Indonesia.

“Marsinah adalah wajah keberanian dalam memperjuangkan martabat manusia,” ujar Pigai. “Penamaan ini adalah wujud penghormatan kami terhadap perjuangannya yang telah menjadi bagian penting dari sejarah hak asasi manusia di negeri ini.”

Simbol Keberanian dan Luka Lama

Marsinah dikenal luas sebagai buruh pabrik di Sidoarjo yang memperjuangkan hak atas upah layak dan kebebasan berserikat. Ia ditemukan tewas secara mengenaskan pada Mei 1993, setelah memimpin aksi protes pekerja. Hingga kini, kasus pembunuhannya belum menemukan titik terang, sebuah luka lama yang terus mengingatkan bangsa ini pada rapuhnya perlindungan bagi mereka yang menuntut keadilan.

Bagi Pigai, penetapan nama Ruang Marsinah memiliki makna simbolik yang mendalam yaitu dengan mengembalikan nama seorang perempuan pekerja ke ruang negara yang seharusnya melindungi setiap warga tanpa pandang latar belakang.

“Jejak perjuangan Marsinah harus terus diingat sebagai pelajaran bagi negara dalam memperkuat perlindungan bagi pekerja dan para pembela kebenaran,” kata Pigai.

Ruang untuk Publik, Ruang untuk Ingatan

Ruang Marsinah akan difungsikan sebagai pusat layanan publik di bidang HAM. Di sana masyarakat dapat mengajukan pengaduan, mencari bantuan, atau mendapatkan informasi mengenai perlindungan hak-hak dasar.

Pigai berharap kehadiran ruangan ini bukan hanya simbol, melainkan pengingat bagi setiap pegawai KemenHAM tentang tanggung jawab moral mereka kepada rakyat dan mereka yang lemah, terpinggirkan, dan sering kali dilupakan.

“Semangat Marsinah adalah semangat kemanusiaan,” ujar Pigai.

“Dengan menamai ruangan ini sebagai Ruang Marsinah, kami ingin memastikan bahwa dedikasi dan pengorbanannya tidak hilang ditelan waktu,” tutup Pigai. (*)

Postingan Sebelum

Jadi Pahlawan Nasional, Menteri HAM Tetapkan Nama Gedung ‘KH Abdurrahman Wahid’

Postingan Selanjutnya

Litha Brent Protes Aset Lahan Miliknya di Jalan Urip Sumoharjo Dilelang Murah

Latest from Blog

Postingan Sebelum

Jadi Pahlawan Nasional, Menteri HAM Tetapkan Nama Gedung ‘KH Abdurrahman Wahid’

Postingan Selanjutnya

Litha Brent Protes Aset Lahan Miliknya di Jalan Urip Sumoharjo Dilelang Murah

error: Content is protected !!

Don't Miss