Masamba– Di tengah isu krisis pangan global, sebuah langkah sederhana namun bermakna muncul dari balik tembok penjara. Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Masamba menanam 100 bibit kelapa sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional, Selasa (9/9/2025).
Inisiatif itu dilakukan serentak di seluruh Indonesia dan dipusatkan di Nusakambangan, Jawa Tengah, dengan kehadiran langsung Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.
Bagi Rutan Masamba, penanaman ini lebih dari sekadar rutinitas seremonial namun ia menjadi simbol rehabilitasi, kemandirian, dan investasi jangka panjang untuk warga binaan.
Kepala Rutan Masamba, Syamsul Bahri, menekankan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi pangan, tetapi juga membekali narapidana dengan keterampilan yang kelak bisa mereka bawa kembali ke masyarakat.
“Ini bukan hanya menanam pohon, tetapi menanam masa depan. Kami ingin para warga binaan merasakan manfaatnya, baik dari sisi ekonomi maupun sosial, ketika mereka bebas nanti,” ujarnya.
Program ini digelar di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), sebuah kawasan yang dirancang untuk pelatihan kerja dan pembinaan kemandirian. Pemerintah menempatkan proyek seperti ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, sejalan dengan Asta Cita Presiden serta 13 program prioritas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Penanaman kelapa dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal tahan lama, multifungsi, dan bernilai ekonomis tinggi, dari buah, serabut, hingga batangnya. Bagi masyarakat sekitar, keberadaan perkebunan baru di kawasan rutan diharapkan dapat membuka peluang kerja tambahan dan mendongkrak roda ekonomi lokal.
Langkah Rutan Masamba memperlihatkan bagaimana institusi pemasyarakatan, yang sering diasosiasikan dengan beban negara, dapat bertransformasi menjadi motor kecil pembangunan. Dari tanah subur di halaman rutan, harapan baru tumbuh bukan hanya untuk penghuni di dalamnya, tetapi juga untuk komunitas di luar pagar besi. (Eka)