Tangis haru bercampur suka cita menyelimuti Lapangan Rutan Kelas IIB Pangkajene, Jumat (6/6) pagi. Puluhan warga binaan berjajar rapi dalam sholat Idul Adha 1446 H, menciptakan pemandangan yang menyentuh hati – sebuah momen spiritual di tengah keterbatasan ruang gerak.
Ustadz Muh. Asyraf yang memimpin khotbah membawa pesan yang sangat personal bagi para hadirin. Dengan suara bergetar penuh emosi, beliau menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua, tema yang seperti menusuk langsung ke hati para warga binaan yang terpisah jauh dari keluarga.
“Sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang dengan taat menjalankan perintah Allah, begitu pula kita sebagai anak harus taat dan hormat kepada kedua orang tua kita. Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua,” ucap ustadz yang membuat banyak mata berkaca-kaca.

Kepala Rutan Irphan Dwi Sandjojo tak menyembunyikan kekagumannya melihat antusiasme warga binaan.
“Meskipun berada dalam keterbatasan, semangat mereka dalam menyambut Hari Raya sangat luar biasa. Ini menjadi momen spiritual yang penting untuk memperkuat iman dan memperbaiki diri,” ungkapnya dengan bangga.
Yang paling memukau adalah suasana setelah sholat berakhir. Pelukan hangat dan jabat tangan penuh makna terjalin antara petugas dan warga binaan, menghapus sejenak sekat-sekat hierarki. Suasana kekeluargaan yang tulus terpancar dari setiap wajah, membuktikan bahwa semangat Idul Adha mampu menyatukan hati dalam kasih dan kebersamaan.
Kegiatan ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa. Ini adalah investasi spiritual yang diharapkan mampu membangkitkan kesadaran mendalam para warga binaan menjadi bekal berharga untuk transformasi diri dan persiapan kembali ke pelukan masyarakat dengan hati yang lebih bertanggung jawab.(*/Eka)