MAKASSAR — Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus Makassar mewisuda 682 sarjana yang digelar di Hotel Dalton Makassar, Rabu 2 September 2026. Momentum ini menjadi penanda capaian akademik sekaligus refleksi atas upaya kampus memperkuat kualitas sumber daya manusia, tata kelola, dan sarana pendidikan.
Rektor UKI Paulus, Prof. Dr. Agus Salim, SH, MH mengatakan penguatan kualitas dosen menjadi salah satu fokus dalam pengembangan institusi. Saat ini, UKI Paulus memiliki empat guru besar dan sekitar 60 dosen bergelar doktor.
Selain itu, enam dosen tengah menjalani proses penyelesaian pendidikan doktoral.
Menurut Agus, peningkatan kualifikasi akademik dosen terus didorong melalui berbagai program, termasuk pemberian dukungan dan beasiswa bagi dosen yang melanjutkan pendidikan ke jenjang magister maupun doktor.
Upaya tersebut dinilai penting karena kualitas perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh sarana pendidikan, tetapi juga kapasitas tenaga pendidik dalam menjalankan proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dosen UKI Paulus Berkiprah di Tingkat Nasional

Penguatan sumber daya manusia juga terlihat dari keterlibatan akademisi UKI Paulus dalam pengembangan pendidikan tinggi secara nasional.
Prof. Yoel Pasae, misalnya, mendapat kepercayaan sebagai evaluator Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) tingkat nasional.
Agus mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi dosen tidak berhenti pada lingkungan internal kampus. Tenaga pendidik juga didorong mengambil peran dalam pengembangan sistem pendidikan tinggi secara lebih luas.
“Keberhasilan UKI bukan hanya rektor saja, tetapi semuanya. Pimpinan universitas, program studi, dosen, mitra, dan mahasiswa,” kata Agus.
Ia mengatakan berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur sivitas akademika.
Pengelolaan Keuangan Mendapat Predikat WTP
Selain bidang akademik, UKI Paulus melaporkan capaian dalam pengelolaan keuangan.
Pendapatan universitas pada semester genap 2026 disebut mencapai sekitar 95 persen dari target yang ditetapkan.
Sementara berdasarkan hasil audit akuntan, pengelolaan keuangan UKI Paulus memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya universitas membangun tata kelola yang akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan.
UKI Paulus juga terus mengembangkan infrastruktur pendidikan. Renovasi sejumlah gedung dilakukan, termasuk fasilitas yang berkaitan dengan pengembangan Program Studi Kedokteran.
Nilai pembangunan dan renovasi tersebut disebut mencapai sekitar Rp17 miliar. Pengembangan fasilitas pendidikan masih terus dilakukan untuk menunjang proses pembelajaran.
Ketua Yayasan: Wisuda Bukan Akhir

Ketua Yayasan PIKI Paulus, Pdt. Yonahis Metrus, mengingatkan 682 lulusan bahwa wisuda bukan sekadar akhir dari proses pendidikan di perguruan tinggi.
Menurut dia, gelar akademik justru membawa tanggung jawab baru bagi lulusan ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
“Wisuda bukan hanya tentang bagaimana memperoleh gelar, tetapi juga adalah tanggung jawab,” ujar Yonahis.
Ia mengatakan pendidikan yang diperoleh selama berada di bangku kuliah akan diuji ketika para lulusan menghadapi kehidupan nyata.
Kemampuan akademik, kata dia, harus berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi, etika, karakter, dan kemampuan menerapkan ilmu dalam kehidupan.
“Setelah itu kehidupan akan menguji kita melalui pendidikan yang kita dapat, mengenai bagaimana cara kita bekerja, bagaimana ilmu kita, serta bagaimana cara kita berkomunikasi,” katanya.
Yonahis juga mengapresiasi perkembangan UKI Paulus dalam beberapa tahun terakhir. Di antaranya peningkatan kualitas dan jumlah tenaga akademik, program beasiswa bagi dosen yang melanjutkan pendidikan, pengembangan program studi, hingga pembukaan dan pengembangan Fakultas Kedokteran.
Yayasan PIKI Paulus juga memberikan penghargaan berupa sertifikat kepada pimpinan UKI Paulus sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan dan kontribusi terhadap pengembangan universitas.
Lulusan Dituntut Memberi Kontribusi
Wisuda 682 sarjana UKI Paulus pada akhirnya tidak hanya menjadi seremoni akademik. Bagi kampus, momentum tersebut menjadi bagian dari evaluasi sekaligus penegasan arah pengembangan pendidikan tinggi.
Peningkatan kualifikasi dosen, pengembangan fasilitas, pembukaan Fakultas Kedokteran, serta penguatan tata kelola menjadi sejumlah langkah yang ditempuh UKI Paulus dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi.
Sementara bagi para lulusan, gelar akademik menjadi bekal untuk memasuki fase kehidupan berikutnya.
Mereka diharapkan mampu mengubah pengetahuan yang diperoleh selama kuliah menjadi kompetensi dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Wisuda pun bukan garis akhir pendidikan. Setelah mengenakan toga, para lulusan memasuki ruang pembelajaran yang berbeda: dunia kerja dan masyarakat yang akan menguji sejauh mana ilmu, karakter, serta tanggung jawab yang mereka miliki.
Kegiatan wisuda tersebut turut dihadiri Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara Prof. Bundu, jajaran pimpinan universitas, Yayasan PIKI Paulus, dosen, sivitas akademika, orang tua, dan keluarga para wisudawan. (Eka)