CILACAP – Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto mengapresiasi transformasi Kawasan Pemasyarakatan Nusakambangan yang kini berkembang menjadi sentra ketahanan pangan sekaligus pusat pembinaan kemandirian warga binaan.
Apresiasi tersebut disampaikan Titiek saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, Sabtu 20 Juni 2026.
Dalam kunjungannya, Titiek meninjau sejumlah program pembinaan dan produksi yang dijalankan di kawasan pemasyarakatan tersebut. Beberapa di antaranya meliputi pengolahan Fly Ash Bottom Ash (FABA), pertanian, peternakan, produksi pupuk organik, balai latihan kerja konveksi, pengelolaan sampah, budidaya perikanan, tambak udang vaname, hingga budidaya sidat.
“Atas nama Komisi IV, saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pak Menteri dan jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Mudah-mudahan usaha ini bisa ditiru dan diduplikasi di tempat-tempat lain,” kata Titiek.
Menurut dia, Nusakambangan yang selama ini identik dengan lembaga pemasyarakatan berpengamanan tinggi kini menunjukkan wajah baru sebagai kawasan produktif yang mampu menghasilkan berbagai komoditas pangan dan produk bernilai ekonomi.
“Nusakambangan yang kita dengar selalu serem, bayangannya Alcatraz. Ternyata setelah ke sini sangat ramah dan bisa menghasilkan begitu banyak produk yang bermanfaat untuk kita semuanya,” ujarnya.
Sementara itu, Agus Andrianto mengatakan berbagai masukan dari Komisi IV DPR RI akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat program pembinaan dan ketahanan pangan yang telah berjalan.
Menurut Agus, jajaran pemasyarakatan saat ini terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang belum digunakan di berbagai lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.
“Kami mohon beberapa evaluasi dan arahan, dan akan kami tindak lanjuti, termasuk upaya-upaya perbaikan dari apa yang sudah kami kerjakan. Seluruh lapas dan rutan memanfaatkan lahan idle yang ada untuk dioptimalkan dalam membangun program ketahanan pangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan dari dalam,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, kawasan pemasyarakatan Nusakambangan saat ini telah memanfaatkan sekitar 135 hektare lahan produktif. Ratusan warga binaan dilibatkan dalam berbagai kegiatan usaha dan pelatihan keterampilan, mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, konveksi, pengolahan sampah, hingga budidaya udang dan sidat.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Melalui keterlibatan dalam kegiatan produktif, mereka diharapkan memiliki bekal keterampilan dan pengalaman kerja saat kembali ke masyarakat.
Transformasi Nusakambangan menjadi kawasan produktif dinilai mencerminkan upaya pemerintah mengubah fungsi pemasyarakatan dari sekadar tempat menjalani pidana menjadi pusat pembinaan yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mendukung program strategis nasional di bidang pangan.