Makassar – Di Sulawesi Selatan, cuaca bukan sekadar laporan singkat di balik angka suhu dan kelembapan. Ia adalah denyut bumi tropis yang menentukan alur kehidupan: dari petani padi di Sidrap, nelayan di pesisir Luwu, hingga hutan hujan yang merangkai pegunungan Enrekang.
Hari ini, 2 Oktober 2025, prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyingkap panorama cuaca yang khas: pagi hingga sore cerah berawan, sebuah jendela langit yang hangat sebelum gumpalan awan tipis berarak dari arah timur. Namun, di sebagian titik, seperti Enrekang, Gowa, dan Luwu Timur, awan basah berpotensi menurunkan hujan ringan.
Malam hari, ketika udara menurun ke suhu 19°C, awan kelabu kembali menebar rintik di Luwu Utara dan Sinjai. Pada dini hari, kelembapan mencapai 95 persen—membawa kesegaran bagi hutan dataran rendah dan sawah basah di Bone serta Wajo.
Angin bertiup dari utara–timur dengan kecepatan 10 hingga 40 km per jam, menjadi jalur tak kasatmata yang menggerakkan kelembapan laut menuju daratan. Pola ini tak hanya mengatur keseharian masyarakat, tetapi juga ritme ekologi: membantu penyerbukan, mendistribusikan spora jamur, dan menjaga siklus air di bentang alam Sulawesi Selatan.
Meski BMKG menyebut tidak ada peringatan dini cuaca ekstrem hari ini, perubahan iklim global mengingatkan kita bahwa pola ini semakin rapuh. Rintik hujan ringan yang jatuh di Enrekang, misalnya, bukan hanya kabar tentang gerimis, tetapi juga pesan bahwa sistem iklim yang menopang ekosistem dan kehidupan manusia di Sulawesi Selatan terus bergerak dalam keseimbangan yang rentan.