Rutan Kelas IIB Pangkep membuka pintu selebar-lebarnya bagi sejumlah awak media, Jumat (4/7/2025), sebagai wujud komitmen keterbukaan informasi publik. Sejak pagi, jurnalis diajak menyaksikan langsung segala proses layanan dan pembinaan yang diberikan kepada warga binaan.
Kunjungan bertepatan dengan program rutin Jumat Pagi Ceria. Puluhan warga binaan dan petugas tampak berbaur mengikuti senam bersama di lapangan. Usai berolahraga, mereka menyeruput bubur kacang hijau hangat yang dibagikan gratis, ekstrapuding mingguan yang sudah menjadi tradisi Rutan Pangkep.
Tak hanya kegiatan jasmani, awak media juga meninjau layanan konsultasi terkait hak integrasi, remisi, dan hak lainnya. Layanan ini sengaja digelar di area blok hunian agar lebih mudah diakses warga binaan.
“Semua layanan kami gratiskan, tanpa pungutan apa pun,” tegas Kepala Rutan Pangkep Irphan Dwi Sandjojo yang mendampingi langsung para jurnalis.
Rombongan kemudian diajak menengok Lahan Ketahanan Pangan. Sayuran kangkung, sawi, hingga cabai tumbuh subur di sana yang merupakan hasil kolaborasi warga binaan dan petugas.
“Program ini sekaligus melatih kemandirian. Panennya kami manfaatkan untuk dapur rutan,” ujar Irphan.
Sesi pamungkas berlangsung di area kunjungan keluarga. Berjejer aneka kerajinan tangan dimulai dompet anyaman hingga miniatur kapal buah kreativitas warga binaan. Pengunjung pun dihibur penampilan musik akustik kelompok warga binaan, menambah semarak suasana.
Fahria, salah satu jurnalis, mengapresiasi transparansi Rutan Pangkep. “Mereka konsisten melibatkan media, sehingga publik bisa melihat langsung proses pembinaan,” tuturnya.
Irphan berharap kunjungan itu kian menegaskan bahwa pembinaan di Rutan Pangkep berjalan sesuai standar hak asasi.
“Dengan program kepribadian dan kemandirian ini, kami ingin warga binaan siap kembali ke masyarakat setelah selesai menjalani pidana,” katanya.
Melalui rangkaian program Jumat Pagi Ceria, Rutan Pangkep menunjukkan bahwa penegakan hukum dapat berjalan beriringan dengan pembinaan kemanusiaan, sebuah langkah penting menuju reintegrasi sosial yang lebih baik. (*/Eka)