Panen 50 Kilogram Terong, Lapas Narkotika Sungguminasa Libatkan Warga Binaan dalam Program Ketahanan Pangan

Juni 23, 2026
1 min read
Panen 50 Kilogram Terong, Lapas Narkotika Sungguminasa Libatkan Warga Binaan dalam Program Ketahanan Pangan.

GOWA – Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Gunawan, memanen 50 kilogram terong bersama warga binaan pemasyarakatan (WBP) di area pertanian lapas, Selasa, 23 Juni 2026. Kegiatan itu menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang diklaim mendukung agenda ketahanan pangan nasional.

Budidaya terong tersebut dikelola melalui Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) sebagai salah satu bentuk pembinaan keterampilan bagi warga binaan. Selain diarahkan untuk menghasilkan komoditas pertanian, program itu juga ditujukan sebagai sarana pelatihan kerja yang dapat menjadi bekal setelah warga binaan menyelesaikan masa pidananya.

Dalam panen kali ini, sebanyak 50 kilogram terong berhasil dipetik. Hasil panen selanjutnya dipasarkan, sementara sebagian pendapatan dari penjualan akan diberikan kepada warga binaan dalam bentuk premi sebagai apresiasi atas keterlibatan mereka dalam proses budidaya.

Kepala Lapas Narkotika Sungguminasa, Gunawan, mengatakan kegiatan pertanian yang dijalankan lembaganya merupakan bagian dari upaya mendukung program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada sektor ketahanan pangan.

“Melalui kegiatan pertanian seperti ini, kami tidak hanya menghasilkan produk yang bernilai ekonomis, tetapi juga memberikan keterampilan kerja dan menumbuhkan semangat produktif bagi warga binaan. Sebagian hasil penjualan dari panen ini akan diberikan dalam bentuk premi sebagai penghargaan atas dedikasi mereka selama mengikuti program pembinaan,” kata Gunawan dalam keterangannya.

Panen 50 Kilogram Terong, Lapas Narkotika Sungguminasa Libatkan Warga Binaan dalam Program Ketahanan Pangan.

Menurut dia, program ketahanan pangan di lapas akan terus dikembangkan agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas, baik dari sisi pembinaan maupun produktivitas. Pengembangan sektor pertanian juga dinilai dapat menjadi media pembelajaran praktis bagi warga binaan dalam mengelola usaha berbasis agrikultur.

Program pembinaan berbasis pertanian belakangan menjadi salah satu model yang dikembangkan sejumlah lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Selain berkontribusi pada penyediaan bahan pangan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan kerja, disiplin, dan kemandirian warga binaan.

Bagi Lapas Narkotika Sungguminasa, hasil panen terong kali ini menjadi indikator bahwa program pembinaan kemandirian yang dijalankan mampu menghasilkan manfaat ganda. Di satu sisi, warga binaan memperoleh pengalaman kerja dan insentif ekonomi.

Di sisi lain, lembaga pemasyarakatan dapat berkontribusi pada upaya penguatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan produktif yang tersedia di lingkungan lapas.

Ke depan, pengelola lapas menyatakan akan terus memperluas program pertanian produktif sebagai bagian dari strategi pembinaan yang mengedepankan keterampilan praktis dan kesiapan reintegrasi sosial warga binaan setelah bebas. Dengan pendekatan tersebut, fungsi pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian, tetapi juga pada penguatan kapasitas ekonomi dan kemandirian warga binaan. (Eka)

Postingan Sebelum

Lapas Narkotika Sungguminasa Lepas Pegawai Pindah Tugas, Kalapas Apresiasi Integritas dan Dedikasi

Postingan Selanjutnya

Kajian Keagamaan Jadi Instrumen Pembinaan Mental Warga Binaan Rutan Makassar

Latest from Blog

Postingan Sebelum

Lapas Narkotika Sungguminasa Lepas Pegawai Pindah Tugas, Kalapas Apresiasi Integritas dan Dedikasi

Postingan Selanjutnya

Kajian Keagamaan Jadi Instrumen Pembinaan Mental Warga Binaan Rutan Makassar

error: Content is protected !!

Don't Miss