Parepare — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Parepare menunjukkan bagaimana pembinaan tidak harus berhenti pada pengawasan, Jumat (17/10/2025).
Melalui program pertanian produktif, warga binaan berhasil memanen sekitar 100 kilogram kacang edamame dari lahan seluas kurang lebih 300 meter persegi.
Hasil ini menjadi bukti bahwa lembaga pemasyarakatan bisa menjadi ruang tumbuh keterampilan hidup yang relevan, bukan hanya tempat menjalani pidana.
Pelatihan Pertanian sebagai Investasi Keterampilan

Sebanyak 15 warga binaan terlibat aktif dalam proses budidaya selama dua bulan. Mereka dilatih langsung oleh petugas pembinaan, mulai dari pengolahan tanah, teknik penanaman, penyiraman, pemupukan, hingga pemanenan dan pengemasan hasil.
Kepala Lapas Parepare, Marten, Bc.IP., S.H., M.H., menyebut bahwa kegiatan ini bukan proyek seremonial, melainkan bagian dari pembinaan berbasis keterampilan yang menekankan kemandirian jangka panjang.
“Setiap warga binaan harus keluar dari sini dengan bekal. Pertanian seperti edamame ini memberi mereka kemampuan yang bisa diterapkan kembali di masyarakat,” ujar Marten.
Manfaat Ganda: Ketahanan Pangan dan Ekonomi Produktif

Dari panen kali ini, sebagian hasil akan digunakan untuk kebutuhan dapur Lapas sebagai dukungan program ketahanan pangan internal. Sementara sebagian lainnya diarahkan untuk pemberdayaan ekonomi warga binaan, termasuk kemungkinan kerja sama dengan masyarakat sekitar atau mitra UMKM.
Program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, yang mendorong pembinaan produktif dan rehabilitatif.
Model Pembinaan yang Bisa Direplikasi

Budidaya edamame dinilai sebagai komoditas strategis karena masa tanam yang relatif pendek, nilai gizi tinggi, dan potensi pasar yang meningkat. Lapas Parepare menjadikan kegiatan ini sebagai model yang bisa ditiru Lapas lain, terutama untuk pembinaan yang bersifat aplikatif dan minim biaya.
Tidak berhenti di edamame, pihak Lapas sudah menyiapkan tahap lanjutan di antaranya perluasan lahan tanam, diversifikasi komoditas seperti tomat, cabai, kangkung, dan sayuran cepat panen, penguatan pelatihan berbasis pendampingan teknis, dan membuat skema pemasaran hasil panen bersama masyarakat lokal.
Pembinaan yang Mengubah Persepsi

Program ini juga menjadi edukasi publik: warga binaan bukan hanya objek hukuman, tetapi subjek pembangunan manusia. Kegiatan pertanian menjadi wadah memperbaiki mental, membangun rutinitas produktif, dan menciptakan rasa percaya diri baru.
Evaluasi panen dilakukan langsung oleh petugas pembinaan bersama peserta, untuk menyiapkan teknik perawatan yang lebih efisien pada tahap berikutnya. Dari hasil pertama, para warga binaan kini memahami siklus tanam, pola kerja kelompok, dan pentingnya tanggung jawab terhadap lahan yang mereka kelola.
Komitmen Jangka Panjang

Dengan model pembinaan seperti ini, Lapas Parepare mempertegas peran korektif dan reintegratif lembaga pemasyarakatan. Hasil panen 100 kg edamame bukan hanya angka, melainkan indikator perubahan pola pendekatan pembinaan dari kuratif menjadi produktif.
“Kami ingin warga binaan keluar bukan sebagai beban sosial, tetapi sebagai individu yang punya keahlian dan arah hidup,” tegas Marten.
Dalam jangka panjang, program seperti ini diyakini mampu menekan residivisme, membuka peluang kerja, serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal melalui hasil panen dan keterampilan yang dihasilkan warga binaan. (Eka)