Gowa — Dari mimbar sederhana di Masjid Al Ikhsan Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Selasa (20/1/2026), sejumlah warga binaan berdiri bergantian. Mereka bukan sekadar berlatih berbicara, melainkan sedang menapaki proses yang lebih mendalam: belajar berdakwah sambil membenahi diri.
Melalui Pelatihan Dakwah Pemasyarakatan, lapas ini kembali menegaskan bahwa pembinaan kepribadian tidak berhenti pada rutinitas ibadah, tetapi juga pada keberanian menyampaikan nilai-nilai kebaikan secara bertanggung jawab. Kegiatan tersebut dibina oleh Staf Binadik, Muhammad Rifai, dan diikuti warga binaan yang dinilai memiliki komitmen untuk berubah.
Para peserta dibekali teknik dasar berdakwah, mulai dari penyusunan materi hingga cara menyampaikan pesan secara santun dan sistematis. Mereka kemudian diminta menyusun materi dakwah secara mandiri, sebelum mempraktikkannya langsung di hadapan pembina dan sesama warga binaan. Setiap penampilan diakhiri dengan evaluasi, bukan untuk menghakimi, melainkan memperbaiki substansi dan cara penyampaian.
Dalam suasana pembelajaran itu, sebuah pesan reflektif disampaikan kepada peserta: “Seandainya dakwah hanya boleh dilakukan oleh orang yang suci dari dosa, maka tidak akan ada lagi dakwah setelah Nabi Muhammad SAW.” Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa dakwah adalah proses belajar, bukan panggung kesempurnaan.

Kepala Lapas Narkotika Sungguminasa, Gunawan, menilai pelatihan dakwah sebagai bagian penting dari pembinaan karakter warga binaan. Menurut dia, dakwah di dalam lapas harus dimaknai sebagai sarana pembenahan diri yang berkelanjutan.
“Yang terpenting adalah menjaga keselarasan antara apa yang disampaikan di mimbar dan perilaku sehari-hari. Dari situlah dakwah memperoleh maknanya,” ujar Gunawan.
Ia menambahkan, dakwah yang tumbuh di lingkungan pemasyarakatan diharapkan mampu memperkuat akhlak, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap aturan. Lebih jauh, kemampuan berdakwah yang santun dan menyejukkan diharapkan menjadi bekal warga binaan, tidak hanya selama menjalani masa pidana, tetapi juga saat kembali ke tengah masyarakat.
Pelatihan ini, menurutnya, bukan untuk mencetak penceramah semata, melainkan pribadi-pribadi yang membawa perubahan positif dimulai dari diri sendiri, lalu menular ke lingkungan sekitar. (Eka)