Maros — Tidak semua perubahan datang lewat kebijakan besar di ibu kota. Kadang, ia tumbuh perlahan dari sebuah lahan pertanian kecil di balik tembok penjara. Itulah yang sedang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros sebuah tempat yang kini tak hanya menjaga warga binaan, tapi juga menanam harapan baru di bawah bendera 13 Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
Setahun sejak Kemenimipas berdiri, Lapas Maros menjadi salah satu yang paling aktif menerjemahkan program besar itu menjadi langkah-langkah kecil yang terasa. Dari pertanian produktif, pelatihan kerja, sampai kegiatan sosial, semua dijalankan bukan sekadar untuk memenuhi target birokrasi, melainkan untuk membentuk wajah pemasyarakatan yang lebih profesional, humanis, dan berintegritas.
“Kami berusaha agar setiap kegiatan punya makna nyata. Pembinaan bukan hanya rutinitas, tapi jalan untuk memulihkan kembali semangat hidup warga binaan,” ujar Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, dengan nada tenang tapi penuh keyakinan.
Menanam Harapan, Memanen Kemandirian
Di area belakang lapas, deretan tanaman sayur dan kebun produktif tumbuh rapi. Di sinilah semangat ketahanan pangan versi Lapas Maros dijalankan. Warga binaan tak hanya diajak bekerja, tapi juga belajar menanam, merawat, dan memanen hasil bumi yang bisa mereka banggakan. Bagi mereka, tanah bukan lagi simbol keterbatasan, melainkan ruang belajar tentang kemandirian dan tanggung jawab.
“Program ini membantu warga binaan memahami nilai kerja keras dan hasil yang halal,” tambah Imran. “Begitu mereka bebas nanti, kami ingin mereka bisa membawa keterampilan ini sebagai modal hidup.”
Razia Rutin dan Disiplin Integritas
Selain membangun, Lapas Maros juga rutin “merapikan”. Razia handphone, narkoba, dan barang terlarang bukan hanya kegiatan administratif, tapi bentuk komitmen menjaga kepercayaan publik. Setiap sudut diperiksa, setiap potensi pelanggaran disisir.
Gerakan ini sejalan dengan semangat Kemenimipas untuk menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang bersih dari “halinar” (handphone, narkoba, dan barang terlarang lainnya). Di balik ketatnya pengawasan itu, ada satu nilai sederhana yang dijaga: integritas.
Membina Bukan Menghukum
Di ruang kerja dan bengkel kecil milik lapas, suara mesin dan palu berpadu dengan tawa ringan. Di sinilah pelatihan pertukangan, perbengkelan, dan pembuatan kerajinan tangan berlangsung. Program ini tidak hanya mengasah keterampilan, tapi juga memulihkan rasa percaya diri warga binaan.
“Setiap meja yang mereka buat, setiap hiasan yang mereka bentuk, punya cerita. Bahwa orang bisa salah, tapi juga bisa belajar memperbaiki,” kata salah satu petugas pembinaan dengan nada bangga.
Kepedulian yang Melampaui Tembok
Tak berhenti di dalam, Lapas Maros juga menebar manfaat ke luar tembok. Lewat kegiatan bakti sosial, donor darah, bantuan untuk masyarakat sekitar, dan kerja bakti lingkungan, mereka ingin membuktikan bahwa pemasyarakatan bukan hanya urusan “mengurung”, tapi juga “menyembuhkan”.
Kegiatan sosial ini menjadi cara sederhana tapi bermakna bagi lapas untuk hadir di tengah masyarakat bahwa lembaga ini bukan menara gading, melainkan bagian dari komunitas yang juga punya rasa peduli.
Langkah Kecil Dampak Nyata
Setahun implementasi 13 Program Akselerasi, Lapas Maros berhasil menjelma menjadi contoh bahwa transformasi birokrasi bisa berwajah manusia. Bahwa di balik jeruji besi, ada ruang untuk belajar, berinovasi, dan berbuat baik.
“Kami ingin Lapas Maros dikenal bukan karena temboknya yang tinggi, tapi karena semangat para petugasnya yang tak pernah berhenti berbenah,” tutup Kalapas Ali Imran.
Mungkin, di antara lahan sayur yang hijau dan ruang pembinaan yang ramai itu, ada satu pesan yang ingin disampaikan Lapas Maros: bahwa pemasyarakatan sejati bukan hanya tentang menjalani hukuman, tapi tentang menumbuhkan kembali kepercayaan kepada diri sendiri, dan kepada kehidupan yang masih menunggu di luar sana. (Eka)