MAKASSAR — Sekitar 50 mahasiswa baru Program Magister (S2) dan Doktor (S3) Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar akan memulai perjalanan akademik dengan kultur belajar yang berbeda dari jenjang sebelumnya.
Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNM melalui Program Studi Bimbingan dan Konseling akan menyambut mahasiswa baru tersebut pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Gedung Convention Hall FIP UNM. Mereka akan diterima oleh Dekan FIP UNM.
Ketua Program Studi S2 dan S3 Bimbingan dan Konseling UNM, Dr. Sahril Buchori, M.Pd., mengatakan penyambutan mahasiswa baru bukan sekadar kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus memahami tuntutan pendidikan di jenjang magister dan doktoral.
“Mahasiswa baru akan kita sambut sebagai bagian dari keluarga akademik Bimbingan dan Konseling FIP UNM. Ini menjadi awal bagi mereka untuk mengenal iklim akademik kampus pada jenjang magister dan doktoral, termasuk budaya akademik, kurikulum, pola perkuliahan, penelitian, publikasi, serta tanggung jawab sebagai mahasiswa pascasarjana,” ujar Sahril.
Menurut Sahril, mahasiswa pascasarjana perlu menyiapkan diri menghadapi pola pembelajaran yang menuntut kemandirian. Kemampuan membaca secara kritis, berdiskusi, menyusun argumentasi, dan mengaitkan teori dengan persoalan nyata menjadi bagian penting dalam proses akademik.
Pada jenjang S2, mahasiswa akan banyak berhadapan dengan kajian literatur, diskusi akademik, presentasi, analisis kasus, pengembangan proyek, penulisan ilmiah, dan penelitian. Mereka tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menggunakannya untuk membaca berbagai persoalan dalam praktik Bimbingan dan Konseling.
Sementara pada jenjang S3, tuntutan akademik lebih diarahkan pada pendalaman teori, kajian kritis terhadap penelitian terdahulu, pengembangan gagasan ilmiah, penelitian mandiri, hingga produksi pengetahuan baru melalui disertasi dan publikasi ilmiah.
“Di jenjang pascasarjana, dosen bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Mahasiswa harus datang dengan hasil bacaan, membawa gagasan, mengkritisi teori, berdiskusi, dan membangun argumentasi akademik,” kata Sahril.
Ia menekankan bahwa mahasiswa doktoral juga perlu sejak awal memikirkan kebaruan penelitian serta kontribusi yang dapat diberikan terhadap pengembangan ilmu Bimbingan dan Konseling.
“Terutama pada jenjang doktoral, mahasiswa harus mulai berpikir tentang kebaruan dan kontribusi apa yang dapat diberikan kepada ilmu Bimbingan dan Konseling,” ujarnya.
Karena itu, Sahril mendorong mahasiswa baru membangun kebiasaan akademik sejak awal masa studi. Membaca artikel jurnal, mengikuti perkembangan penelitian, menulis secara ilmiah, menghadiri seminar, serta membangun kolaborasi dengan dosen dan sesama mahasiswa dinilai penting untuk membentuk kapasitas akademik.
Tahun ini menjadi momentum tersendiri bagi Program Doktor Bimbingan dan Konseling UNM karena memasuki angkatan kedua. Kehadiran mahasiswa doktoral baru diharapkan dapat memperkuat ekosistem penelitian dan pengembangan keilmuan Bimbingan dan Konseling di FIP UNM.
Pada 2026, Program Studi S2 dan S3 Bimbingan dan Konseling juga mulai berjalan dalam lingkup FIP UNM setelah sebelumnya berada di bawah Program Pascasarjana. Perubahan tersebut menghadirkan dinamika baru dalam pengembangan pendidikan dan kultur akademik Bimbingan dan Konseling di lingkungan FIP UNM.
Sahril menegaskan pendidikan magister dan doktoral tidak semata-mata ditujukan untuk memperoleh gelar akademik. Proses tersebut, kata dia, merupakan bagian dari pembentukan kematangan berpikir sekaligus identitas mahasiswa sebagai akademisi dan profesional.
“Sejak awal kami berharap mahasiswa mempersiapkan diri. Kenali budaya akademiknya, nikmati proses belajarnya, bangun jejaring, dan jadikan kampus sebagai ruang bertumbuh serta melahirkan inovasi keilmuan. Pascasarjana bukan hanya tempat menyelesaikan studi, tetapi tempat membangun kapasitas untuk memberikan kontribusi yang lebih besar,” ujar Sahril.