Lapas Kelas I Makassar tak lagi sekadar tempat menebus kesalahan. Di balik temboknya, deretan mesin jahit berdentum teratur menandai denyut baru pemasyarakatan produktif.
Pemandangan itu yang disaksikan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen IMIPAS) Silmy Karim saat meninjau langsung unit garmen bersama Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulawesi Selatan Rudy Fernando Sianturi dan Kepala Lapas Makassar Sutarno disambut para pimpinan UPT pemasyarakatan se-Sulsel.
Silmy Karim menyusuri setiap tahapan dari pemotongan bahan, penjahitan, hingga pengepakan seragam sekolah, pakaian dinas, dan perlengkapan ibadah.
“Inilah wujud nyata pembinaan. Lapas bukan hanya ruang hukuman, tetapi laboratorium keterampilan. Warga binaan harus pulang dengan nilai tambah,” tegasnya tak menutupi kekaguman pada kerapian produksi.
Rudy Fernando Sianturi menegaskan program garmen sejalan dengan Asta Cita Presiden RI yang menitikberatkan peningkatan kualitas SDM.
“Transformasi pemasyarakatan menuntut kita menyiapkan bekal nyata. Kami ingin warga binaan kembali ke masyarakat tanpa stigma, melainkan harapan dan keahlian,” ujarnya.
Kalapas Makassar Sutarno menambahkan unit garmen menggandeng mitra eksternal sehingga hasil produksi memenuhi standar industri.
“Mereka bekerja dengan target dan quality control ketat. Semangat itu melahirkan kebanggaan baru bagi warga binaan,” kata Sutarno, seraya menyebut peningkatan volume pesanan menjadi indikator kepercayaan pasar.
Kunjungan Wamen IMIPAS kian mengobarkan semangat petugas pemasyarakatan Sulawesi Selatan untuk terus memperkuat pola pembinaan adaptif dan relevan. Lapas Makassar kini tampil sebagai etalase bahwa masa pidana dapat menjadi jembatan keterampilan dan mengubah blok binaan menjadi pusat konveksi yang menyiapkan masa depan lebih cerah bagi penghuninya. (*/Eka)