Kejaksaan Agung (Kejagung) terus mendalami kasus dugaan korupsi pemberian kredit kepada PT Sri Rejeki Isman Tbk (PT Sritex) dan anak usahanya. Kali ini, penyidik memeriksa 12 saksi, termasuk kalangan terdekat dari tersangka utama, ISL.
Salah satu saksi yang menarik perhatian adalah MGW, istri dari tersangka ISL. Tak hanya berstatus sebagai pasangan tersangka, MGW juga diketahui menjabat sebagai Direktur Utama PT Griya Asri Sejahtera.
“Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan dalam perkara yang dimaksud,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Harli Siregar dalam keterangannya, Kamis (26/6/2025).

Selain dari lingkaran keluarga tersangka, Kejagung juga memanggil dua komisaris dari PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng), yakni SP dan FXS, untuk dimintai keterangan.
Mereka diperiksa terkait dugaan keterlibatan dalam proses pemberian kredit kepada PT Sritex yang juga melibatkan beberapa bank daerah lainnya, seperti Bank DKI dan Bank BJB.
Pemeriksaan turut menyasar pelaku dari sektor swasta lainnya, termasuk BU selaku Direktur Utama PT Utama Bintang Erkonpersada, serta MIL dari PT Wismatama Indah Makmur.
Dari internal PT Sritex, dua staf keuangan yakni IST (staf accounting) dan CKN (staf keuangan) juga diperiksa penyidik. Tak hanya itu, HW yang menyusun Feasibility Study PT Rayon Utama Makmur pada tahun 2009 sebuah entitas anak usaha Sritex turut dimintai keterangan.
Penyidik juga memeriksa jajaran bank yang terkait langsung dengan proses kredit. RS, General Manager Sindikasi BNI tahun 2014, diminta menjelaskan perannya dalam proses tersebut. Sementara itu, MR yang menjabat GM Operasional Kredit Bank BJB, serta dua stafnya CAS dan HPY turut diperiksa.
Kejagung tengah menelisik aliran dan struktur kredit yang diberikan oleh Bank BJB, Bank DKI, dan Bank Jateng kepada PT Sritex dan afiliasinya, yang diduga menyimpang dari ketentuan hukum.
Pemeriksaan secara menyeluruh terhadap berbagai lapisan dari keluarga tersangka, komisaris bank, hingga staf operasional tersebut menandakan bahwa dugaan korupsi dalam kasus ini bersifat sistemik dan melibatkan lintas sektor.
“Kami memastikan seluruh pihak yang relevan diperiksa untuk mendapatkan gambaran utuh dalam perkara ini,” tegas Harli.
Adapun kasus ini menjadi sorotan publik karena besarnya skala kredit yang diberikan dan potensi kerugian negara. PT Sritex sendiri dikenal sebagai salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia, namun kini tengah menghadapi sorotan tajam akibat masalah hukum yang menyeret berbagai institusi besar. (*)