MAKASSAR – Program budidaya selada yang dijalankan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar kembali menunjukkan hasil positif. Panen selada yang dilakukan secara rutin tidak hanya menjadi bagian dari pembinaan kemandirian, tetapi juga mendapat respons baik dari masyarakat yang membeli hasil produksi tersebut secara langsung.
Sejumlah pembeli datang ke Rutan Makassar untuk mengambil pesanan selada yang telah dipanen. Tingginya minat masyarakat dinilai menjadi indikator bahwa hasil budidaya warga binaan mampu memenuhi standar kualitas dan memiliki nilai jual di pasaran.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya Rutan Makassar mendukung ketahanan pangan sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif selama menjalani masa pembinaan. Selain menghasilkan komoditas pertanian, kegiatan itu juga diarahkan untuk menanamkan disiplin kerja, tanggung jawab, dan semangat berwirausaha.
Kepala Sub Seksi Bimbingan Kegiatan (Bimker) Rutan Kelas I Makassar, Syahidillah, mengatakan kepercayaan masyarakat terhadap hasil panen warga binaan menjadi dorongan bagi pengembangan program pembinaan kemandirian di lingkungan rutan.
“Melalui pembinaan budidaya selada ini, kami ingin membuktikan bahwa warga binaan mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi. Kepercayaan dari masyarakat menjadi motivasi bagi mereka untuk terus belajar, berkarya, dan mempersiapkan diri agar lebih siap kembali ke tengah masyarakat,” kata Syahidillah dalam keterangannya.
Menurut dia, keberhasilan pemasaran hasil panen tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memberikan kepercayaan diri bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Pengalaman mengelola budidaya tanaman hingga memasarkan hasil panen diharapkan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat.
Budidaya selada merupakan salah satu program pembinaan kemandirian yang dikembangkan Rutan Kelas I Makassar dalam mendukung agenda ketahanan pangan. Program tersebut menitikberatkan pada pelatihan keterampilan praktis yang dapat menjadi modal usaha dan sumber penghasilan bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidananya.
Keberlanjutan program serta meningkatnya minat masyarakat terhadap hasil panen menjadi gambaran bahwa pembinaan berbasis keterampilan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing dan manfaat ekonomi. (Eka)