Makassar — Ada yang baru di dapur pemasyarakatan. Bukan resep, tapi regulasi. Kepala Rutan Kelas I Makassar, Jayadikusumah, ikut ambil bagian dalam Sosialisasi Peraturan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Permenimipas) Nomor 1 Tahun 2025 yang membahas penyelenggaraan makanan di seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan, Rabu (22/10/2025).
Kegiatan yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan itu diikuti oleh para kepala UPT se-Indonesia, baik secara daring maupun luring. Tujuannya sederhana tapi penting yaitu menyamakan arah kompor birokrasi agar setiap piring nasi warga binaan di seluruh Indonesia tersaji dengan standar yang sama, bergizi, higienis, dan penuh tanggung jawab.
Dalam forum itu, disorot pula hal-hal yang selama ini sering luput dari perhatian, mulai dari transparansi penyediaan bahan makanan, akuntabilitas anggaran dapur, sampai pengawasan kualitas masakan yang akan dikonsumsi ribuan warga binaan setiap harinya. Regulasi baru ini, kata pihak Ditjen PAS, bukan hanya soal menu dan takaran kalori, tapi juga soal memanusiakan manusia lewat makanan yang layak.
Menanggapi hal itu, Jayadikusumah menegaskan bahwa Rutan Makassar tak akan berhenti di tataran seremonial. “Kami segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan dapur, dari bahan baku hingga penyajian,” ujarnya.
Menurutnya, dapur Rutan Makassar sedang bersiap naik kelas. Bukan cuma alat masaknya yang dibenahi, tapi juga pola kerja dan pengawasan mutu. “Kami ingin memastikan setiap proses berjalan aman, higienis, manusiawi, dan memenuhi hak dasar warga binaan,” tambahnya.
Semua pembenahan itu, lanjut Jayadikusumah, adalah bagian dari pengejawantahan nilai PRIMA (Profesional, Responsif, Inovatif, Modern, dan Akuntabel). Sebab bagi Rutan Makassar, melayani warga binaan dengan baik bukan sekadar kewajiban administratif, tapi bentuk nyata dari komitmen menghadirkan layanan pemasyarakatan yang bermartabat.
Jadi, kalau nanti aroma masakan dari dapur Rutan Makassar terasa makin menggoda, bisa jadi itu bukan cuma karena bumbunya pas, tapi juga karena aturannya kini lebih manusiawi. (Eka)