Gowa — Pada Senin pagi yang biasanya berlangsung rutin, apel pegawai di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Sungguminasa berubah menjadi operasi mendadak. Di bawah komando Kepala Lapas Gunawan, setiap telepon genggam milik petugas diperiksa satu per satu. Tujuannya sederhana namun sarat makna: memastikan aparat pemasyarakatan bersih dari jeratan judi online.
Langkah ini mencerminkan tekanan yang kian besar terhadap institusi pemasyarakatan Indonesia, yang selama ini kerap menjadi sorotan publik akibat kasus penyalahgunaan wewenang dan peredaran narkoba dari balik jeruji. Kini, dengan maraknya praktik judi online yang menggerus kehidupan sosial hingga ke tingkat birokrasi, pengawasan internal menjadi medan baru yang tidak bisa diabaikan.
“Tidak ada ruang untuk judi online di lingkungan Lapas Narkotika Sungguminasa,” ujar Gunawan di hadapan jajarannya. “Selain merusak mental, judi online berpotensi menghancurkan rumah tangga, bahkan dapat mencoreng nama baik institusi. Kita sebagai aparat harus menjadi teladan.”

Sidak yang digelar di halaman apel itu merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan surat edaran Kantor Wilayah Sulawesi Selatan. Selain inspeksi perangkat digital, pihak lapas juga diminta memperkuat kampanye moral melalui pemasangan spanduk larangan narkoba dan judi online di seluruh unit kerja.
Bagi banyak pihak, sidak semacam ini lebih dari sekadar ritual pengawasan. Ia menjadi simbol dari pertarungan institusi negara melawan bentuk-bentuk baru korupsi moral yang lahir di era digital. Dengan jutaan orang Indonesia terjerat praktik judi daring, termasuk dari kalangan aparatur negara, upaya seperti yang dilakukan di Sungguminasa memperlihatkan bagaimana tekanan nasional diterjemahkan di level paling dasar birokrasi.
Gunawan menegaskan sidak serupa tidak akan berhenti pada satu kali agenda. Ia berjanji menjadikannya sebagai langkah rutin agar lingkungan kerja tetap bersih dan berintegritas.
“Ini adalah komitmen kita menjaga marwah pemasyarakatan,” katanya.
Di tengah lonjakan kasus judi online yang telah memakan korban lintas lapisan masyarakat, dari mahasiswa hingga pejabat, apel pagi yang bertransformasi menjadi sidak ini menyoroti tantangan lebih besar: bisakah institusi penegak hukum menjaga dirinya tetap steril dari penyakit yang mereka diminta untuk perangi?. (Eka)